Coming Soon Giveaway 5-12 May 2017

Tris Prior, Tokohku



Dari sekian banyak tokoh novel yang bertebaran, hanya satu yang mendekati kepribadianku. Dapatkah kau menebaknya? Pendiam tapi pemberontak. (saking diamnya dulu buku raport SD-ku penuh dengan catatan guru tentang berinteraksi sosial dengan teman sekelas :P) Berjiwa petualang. Bertubuh mungil tapi bernyali besar. Berani meninggalkan zona nyaman untuk mencapai passionnya. Ya, kau benar. Aku adalah Tris Prior dalam kisah fantasi dystopsia Divergent. ^.^

“Faksi lebih penting dari pertalian darah.”

“Hidup tanpa perlindungan faksi bukan sekedar hidup miskin dan tidak nyaman, tapi juga hidup terpisah dari masyarakat, terpisah dari hal yang terpenting dalam hidup : komunitas.Tanpa faksi, kita tak akan memiliki tujuan dan alasan hidup.”

Kisah hidupku  agak mirip dengan Divergent yang merupakan penyimpangan dalam masyarakat faksi. Terutama dalam semangat untuk tetap meraih hidup walaupun mungkin terlihat agak antimainstream. Kisah Divergent bercerita bagaimana perjuangan seorang Tris Prior untuk tetap mempertahankan hidupnya setelah ia berganti faksi. Sistem faksi terinspirasi dari komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Faksi menunjukkan identitas diri, tujuan, cara, dan alasan hidup. Hidup tanpa faksi (factionless) berarti hidup miskin, tidak nyaman, dan terkucil dari masyarakat faksi.

Selama bertahun-tahun aku bekerja di bawah paparan uap zat kimia. Walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memperkecil dampak negatif dengan memakai masker dan meminum susu sehabis bekerja, aku tetap terkena juga. Kulit wajahku dipenuhi pustule (nanah) yang sakitnya seperti tusukan ratusan jarum. Hingga aku tak tahan jika melakukan aktivitas di luar rumah. Tidur juga tak nyenyak. Memang setelah 3 tahun perawatan detoks dengan herbal Andrographis paniculata, buah naga, sirsak, dan berolahraga secara teratur, kulitku sembuh total. Tapi aku tak pernah sama lagi. Sama seperti Tris yang tidak bisa kembali ke faksi awalnya, Abnegation, aku pun tidak bisa kembali bekerja seperti biasa. Kulitku sama sekali tak tahan uap zat kimia. Ibaratnya aku berganti faksi. Aku mulai serabutan melakukan hobby yang bisa menghasilkan uang. Menjual paket-paket makanan. Mengikuti kompetisi resep secara online. Hingga ngeblog dengan membaca banyak online tutorial gratis. Awal ngeblog untuk membantu promosi bisnis tas kulit teman. Tak disangka blog membuatku bertemu dengan dunia kata yang menyenangkan. Kata. Ya, tarian kata yang penuh dengan emosi dan menarikku ke dunia fiksi yang menyenangkan.=)

Dari beberapa blog yang kubuat, hanya blog review buku yang paling sering kuupdate. Aku suka membaca novel-novel yang inspiratif. Mengajarkan tentang arti hidup. Kebahagiaan. Hingga akhirnya tahun ini, kuputuskan untuk belajar mengarang secara online. Aku ingin sekali membuat novel sendiri. Terutama untuk berbagi minat, saran, dan solusi praktis cara berbahagia. Aku senang melihat senyum ceria Tris-Tris yang berbahagia. Mengarang memberi kebahagiaan tersendiri. Semoga aku tetap bisa konsisten menjadi Tris yang berhasil menghalau kegalauannya ketika memilih faksi pada proses inisiasi. Satu langkah kecil bisa berarti satu langkah besar kehidupan. Hambatan adalah proses pendewasaan diri yang harus dilalui dengan senang hati. Kuharap jiwa Tris yang berkepribadian kuat  tetap hidup dalam jiwaku. Terima kasih. =)

*Tulisan ini diikutsertakan pada kuis Gramedia, "Tokoh siapakah aku?"


Trims banyak ^^



Komentar

Popular Posting