Current Giveaway 5-12 May 2017

Review Berlabuh di Lindoya by K. Fischer

My rating : 4 bintang (skala 5)



Judul : Berlabuh di Lindoya
Penulis : K. Fischer
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : 2015
Jumlah halaman : 280 halaman                           
ISBN : 978-602-03-1866-0

Sinopsis :
Sam melarikan diri dari Indonesia untuk melupakan masa lalunya yang pahit. Ia ingin membuka lembaran baru dengan bekerja di perusahaan pengeboran minyak di Norwegia.
Ia menyewa rumah tua di Pulau Lindoya dan bertemu dengan Rasmus yang simpatik. Tapi, bayang masa lalu kembali datang mengintai … walaupun Sam telah lari begitu jauh …

Review :
Dari judulnya ‘Berlabuh di Lindoya,’ sudah bisa tertebak genre novel ini romance. Nama Lindoya terdengar begitu etnis dan unik. Aku belum pernah mendengar nama tersebut sebelumnya. Ternyata Lindoya ialah nama sebuah pulau di Norwegia. 




Karena ada kata ‘berlabuh’ di judul suatu novel, pasti temanya hati yang tersakiti. Tapi, tema yang lebih tepat untuk novel ini ialah ‘move on’ setelah mengalami trauma pelecehan seksual.


Gaya bahasanya mengalir lancar. Cinta. Kehangatan persahabatan. Sedih. Takut. Paranoid. Terungkapkan dengan baik walaupun kisah cintanya agak mudah ditebak.

Seperti novel  sebelumnya, ‘Blue Vino,’  karakter tokoh pria asing di novel ini pun tidak gombal. Berbeda sekali dengan tokoh pria Indonesia yang lebih mendayu dan pandai merayu. Pengarang pandai menggambarkan perbedaan budaya dan karakter antara Barat dan Timur.


Penokohan pria Barat oleh K. Fischer begitu real. Banyak orang yang mengira karakter pria Barat itu semau gue atau dingin. Sebenarnya mereka tidak bermaksud seperti itu. Satu hal yang harus dipertimbangkan. Situasi hidup yang keras, seperti alam yang tak bersahabat (badai salju, musim dingin yang panjang, dll), ataupun tuntutan jam kerja yang lebih panjang membuat pria Barat bersifat lebih mementingkan hidup daripada cinta. Lebih individualis. Lebih introvert dan kurang komunikatif. Memang Indonesia juga alamnya keras (tsunami, gempa, letusan gunung berapi, banjir, dll). Tapi, ada perbedaan pandangan hidup antara Barat dan Timur. Orang Indonesia lebih menikmati hidup, tidak terlalu memusingkan masa yang akan datang karena orang Indonesia berpikir pasti nanti juga akan ada solusinya. Budaya gotong-royong dan religi membentuk pola pikir bahwa sesulit apa pun hidup, pasti akan ada harapan (atau bantuan). Berbeda dengan orang Barat yang memikirkan langkah demi langkah, fokus pada apa yang akan terjadi di masa mendatang. Satu riak dalam hidup dapat membuat mereka cemas (maksudnya hal yang tidak sesuai dengan rencana) karena mereka menyukai kestabilan dan rencana hidup. Oleh karena orang Indonesia berkepribadian lebih santai (orang Indonesia sudah biasa selancar di gelombang besar atau pun kecil :P), membuat orang Indonesia lebih kreatif dalam merayu dan romantis. Tapi, orang Barat lebih gentle dan simpatik. :P Hal ini tersirat dalam novel ini. Bahkan perbedaan kecepatan langkah dalam menembak pujaan hati antara pria Barat dan Timur juga tersirat dalam novel ini. Tokoh pria Indonesia cenderung lebih cepat dan kadang terburu-buru dalam menentukan status hubungan, tapi pria Barat lebih lamban. Tapi sebenarnya yang lamban itu kadang-kadang cenderung lebih mendalam hanya tak terlalu terungkap. Ibarat permainan catur, semua dipikirkan strateginya. Ini yang membuat dunia Barat dan Timur kadang sulit bersatu. Tapi, bisa bersatu jika saling mengerti dan beradaptasi. Semuanya tergantung dari pola berpikir dan mimpi hidup. Saling pengertian dan menghilangkan ego masing-masing. Tapi, tetap saja, baik pria Barat maupun Timur, tergantung pada pribadinya masing-masing. :p


Satu rahasia kecil yang juga terungkap dalam novel ini, pria Barat cenderung tegas memutuskan hubungan ketika pacarnya melakukan hal fatal yang tak ia sukai. Pria Indonesia cenderung tidak akan meninggalkan, paling juga ngambek. (Kalau sampai memutuskan juga, lebih lama durasinya sampai memutuskan pacar, bersifat lebih sabar.)

Karakter Sam dalam novel ini agak mirip dengan karakter Roz dalam novel Blue Vino. Hanya Sam lebih jutek, dingin, dan anti pria sedangkan Roz...sedikit lebih emosional, gegabah, hangat, tipe penggoda dan suka flirting. :P Tapi karakter tenang dan seriusnya serupa. ^^
Sama halnya dengan karakter Rasmus dalam novel ini dengan Dagny dalam novel Blue Vino. Tipe tenang dan dewasa. Tapi Rasmus lebih ramah dan simpatik. Dagny lebih misterius dan agak dingin.

Pengarang memilih latar negara Norwegia yang dingin, berpenduduk sedikit, dan agak terpencil untuk menggambarkan dinginnya hati Sam yang anti sosial (menghindari pergaulan) karena mengalami trauma masa lalu. Ibaratnya badai es yang membeku. Hati yang mati. O.O



Pengarang tidak memilih Gurun Sahara yang lebih ekstrim menggambarkan suasana yang patah hati … panas ketika siang menggambarkan amarah, dingin ketika malam menggambarkan kekecewaan, gersang, tandus, kejam … 



(langsung pengarangnya keplak aku double…plok..plok…ini temanya negara salju!!!) peace!!! ^.^

Atau pun daerah Siberia dengan tokoh pria Rusia yang tampan, sangat emosional dan flamboyan??  


Mungkin latar Norwegia dipilih pengarang sebagai tempat perlindungan Sam karena terkesan tenang. Seperti yang digambarkan dalam novel ini, penduduk Norwegia sangat tenang. Hangat dan senang bersosialisasi, terutama penduduk daerah pedesaan/daerah terpencil.




Trauma masa lalu yang dialami Sam ialah pemerkosaan oleh pacarnya sendiri. Pemerkosaan bisa berdampak negatif seperti :
1. Depresi berat bahkan mengalami gangguan jiwa karena tak bisa menerima kenyataan pahit.
2. Berhati es dan dingin :
a. Anti sosial, seperti Sam dalam novel ini. Menjauhi pergaulan. Bahkan melarikan diri sejauh mungkin dari sumber masalah.
b. Menjadi sangat agresif (misalnya menjadi playgirl karena membalas dendam kepada para pria secara tak sadar).




Hal sosial yang menarik dalam novel ini ialah menjadi sukarelawan untuk workshop (semacam rumah singgah) untuk anak jalanan, anak cacat, atau pun anak broken home. Musik di Operahuset. 



Memancing di tengah malam …


Penokohannya menarik :

Sam (Putri) berkarakter kuat, tenang, serius, introvert, dan paranoid.

Rasmus Knudsvigsson berkarakter tenang, tegas, ramah, dan simpatik.                                 
                                                           
Inga Hjelpsom berkarakter ramah, tegas, dan penuh perhatian.

Deri (Ei) berkarakter egois, manja, dan kekanak-kanakkan.

Knut, teman Rasmus yang berkarakter ramah dan ceria.

Solveig, teman Rasmus yang berkarakter ramah.

Ren, teman Rasmus yang berkarakter ramah, ceplas-ceplos, dan spontan.

Bunda, ibu Sam yang berkarakter tenang, tegas, dan serius.

Pengarang rinci sekali membuat karakter Sam yang dewasa. Tidak pernah ada ungkapan benci yang sangat emosional dari Sam kepada Deri. Tidak ada ungkapan dendam. Seperti kutipan di bawah :
Semua rasa gundah, gulana, risau, cemas, marah, sedih, takut, kecewa Sam hilang sudah. Ia melihat Deri seperti melihat debu di udara. Begitu tidak berarti.
Sam hanya merasakan kekecewaan,  amarah, ketakutan, dll karena setidaknya mereka pernah dekat sebagai pacar, mereka senior-yunior, satu jurusan, satu almamater, hingga Sam mengubah hidupnya secara drastis, ‘move on’ dengan bekerja di Norwegia. Sebenarnya dalam kehidupan nyata, yang berbahaya dalam hubungan cinta ialah CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) dengan teman sekolah (teman kuliah, teman SMU, dll). Karena selama masa sekolah tersebut, terasa sekali kebersamaannya (senasib) dan perjuangan lulus sekolah bersama-sama, manis, pahit, senang, sedih, dll. Makanya, reunian itu agak berbahaya kalau tidak pandai mengendalikan diri. 
Menyimak kutipan, "...seperti melihat debu di udara. Begitu tidak berarti ..." Pengabaian adalah tingkat tertinggi rasa tidak suka. O.O

Sedikit keganjilan ketika Sam tidak membawa uang hingga tidak sarapan di kampus. Ini kurang menggambarkan karakter mahasiswa/i di Indonesia karena kalau di Indonesia pasti, ‘Tolongin aku pinjaaaaam uang, donk! Ketinggalan nih. Nanti kuganti, ya!” (pengalamanku ..uhuk…uhuk :P) Mungkin pengarang ingin menekankan karakter Sam benar-benar introvert atau bahkan gengsian :P



Mungkin kisahnya akan lebih menegangkan perasaan jika Deri (Ei) berubah menjadi lebih baik, menyesal, mengejar Sam mati-matian ketika mereka bertemu kembali sehingga Sam mengalami konflik diri. Supaya kisah cintanya lebih ruwet. :P Tapi, memang cara berpikir pengarang logis. Sulit sekali suatu karakter berubah menjadi lebih baik, kecuali jika ia memang mendapat musibah (besar) sehingga baru melakukan introspeksi diri atau ia memang berniat untuk mengubah diri menjadi lebih baik.
Atau, pengarang ingin menekankan karakter Deri yang psikopat. Tidak pernah merasa dirinya salah. Sebenarnya psikopat dapat jauh lebih berbahaya dari orang yang mengalami gangguan jiwa (senyum sendiri, nyanyi sendiri, dll) karena psikopat itu intelek. Psikopat terlihat normal. Kita akan sulit menduga orang tersebut psikopat tidaknya. Baru terlihat ketika kita sudah terkena dampak negatifnya.

Budaya menarik dalam novel ini :
-Jonsok atau Midsummer (Sankt Hans Aften).
Hari terpanjang dalam satu tahun pada pertengahan musim panas ketika matahari mencapai titik baliknya pada tanggal 23 Juni. Biasanya dirayakan dengan api unggun (kumpulan kayu yang ditumpuk setinggi mungkin lalu dibakar) dan piknik.



-Yule log.
Satu batang pohon besar, keras, dan panjang, yang dibakar dari bawah.



Aku agak bingung dengan penyelesaian kasus pengancaman video terhadap Sam??? Penyelesaiannya agak menggantung. Kisahnya juga akan lebih berkesan jika adegan romantisnya lebih banyak. Dan tokoh prianya jangan terlalu sempurna dan baik karakternya. (A bad boy is so cool!!!) ^.^ 

Aku agak penasaran karena di dalam novel ini deskripsi alam liar Norwegia-nya agak sedikit. Misalnya fjord, danau es, dll. Mungkinkah ada festival ice skating di danau es?  Tapi tidak apa-apa, aku tetap menikmati kisah cinta Sam yang berkepribadian kuat. =)

Kalimat paling romantis :



Kutipan kalimat yang menarik :


































Untuk yang suka kisah romance, penasaran dengan perbedaan budaya Barat dan Timur, kudu baca novel ini. ^.^


PS : Request untuk K.Fischer, novel berikutnya kalau bisa, ingin latarnya Prancis, Spanyol, Yunani, Inggris, Rusia, dan Slovenia. Soalnya aku suka banget cara K.Fischer mendeskripsikan tempat dan budaya. Tapi ingin suasananya yang tradisional seperti di desa-desa/kota-kota kecil. ^.^ Aku merindukan tokoh pria yang Don Juan ...(langsung pengarangnya gigit aku :P Bikin PR aja … :p)

Komentar

  1. Berkali-kali dibuat fallin love dengan Berlabuh di Lindoya. Tapi kali terakhir inilah review yang benar-benar menggugah, ciamik, detail. Yah, pokoknya suka banget.

    Thanks Kakak.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posting