Current Giveaway 5-12 May 2017

Review Among The Pink Poppies by K. Fischer

Review Among The Pink Poppies


My rating                  : 5 stars (five stars scale)


Judul                          : Among the Pink Poppies
Genre                         : Romance 
Pengarang                 : K. Fischer
Penyunting                : Shara Yosevina
Desain                        : Amanda M.T. Castilani
Penerbit                     : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit              : 2017
Jumlah halaman       : 551
ISBN                          : 978-602-394-513-9


Among the Pink Poppies merupakan novel romance keempat dari K. Fischer. Ketiga novel lainnya ialah Denting Lara, Blue Vino, dan Berlabuh di Lindoya.  Novel ini unik karena memiliki tagline, “Hapus Perjodohan dari Bumi Cinta!

“Sekolah, kerja, menikah, punya anak, jadi tua, meninggal. Sudah. Hanya itukah arti hidupku?” (-Saras, hal 5)
Berbeda dengan tokoh utama perempuan di Blue Vino dan Berlabuh di Lindoya yang berkarakter kuat dan tomboy, Saras yang merupakan tokoh utama perempuan dalam Among the Pink Poppies terkesan feminin, tapi mandiri dalam hidup. Saras merupakan anak perempuan bungsu di keluarga Jawa yang penuh dengan aturan adat-istiadat. Kalau menentang, nanti kena kualat… o.o Kalau berani debat, semua meriam serentak tertuju pada diri Saras. 

Tak bisa berkutik. Saras seperti mikroba yang terus diamati melalui mikroskop. Tapi Saras bukan mikroba. Ia kupu-kupu yang pergi meninggalkan kepompongnya. Bebas. Lepas ke dunia baru yang penuh harapan. Dunia Linz di Austria.



Bagi Ibu Saras yang tinggal di Jakarta, jarak jutaan kilometer antara Lintz dan Jakarta tak menjadi masalah untuk menggempur benteng hati Saras. Ibu Saras bak Napoleon Bonaparte yang merancang jalannya pertempuran dengan sangat teliti. Pionnya ialah kakak-kakak Saras dan para menantunya. 

Tujuan hidupnya hanya satu, yaitu anak-anaknya menikah dengan keluarga yang berpendidikan, kaya, dan terpandang. Oleh karena itu, Ibu Saras senang menjodohkan anak-anaknya dengan anak kenalannya. Padahal Ibu Saras sendiri menikah dengan pria pilihannya sendiri. Akar permasalahannya ialah Saras menolak pria pilihan ibunya. Ia harus menghadapi bombardir pertanyaan kepo, saran yang meningkat menjadi interogasi, ultimatum melalui Skype, WhatsApp, telepon, dan SMS. Aaaw… Tidak adakah Pangeran berkuda putih yang bisa menculik sang Putri menuju istana cinta yang damai? Walaupun sebenarnya tidak ada cinta yang damai itu. Pusing, kan? :P



Linz memiliki makna yang dalam bagi Saras karena ia menyusun setiap keping kehidupan di kota tersebut. Linz, tempat ia mengenal arti kehidupan. Ia kuliah dan bekerja sebagai insinyur di Ars Electronica. 


Linz juga tempat ia mengenal cinta. Ia bukan hanya jatuh cinta pada seorang pria Austria bernama Jonas. 

Tapi jauh lebih dalam dari itu. Ia juga jatuh cinta begitu dalam. Sedalam-dalamnya pada keluarga barunya di Linz. Ia menyayangi Amelia, gadis cilik berumur 6 tahun yang sudah tak memiliki ibu kandung. Amelia merupakan keponakan sekaligus anak asuh Jonas. Begitu sulitnya perjuangan Jonas untuk mempertahankan statusnya sebagai bapak asuh karena rumitnya sistem hukum perlindungan anak di Austria.

“Ibu, kan, lebih tahu yang terbaik buatmu.” (hal 475)
Saras memiliki sekutu setia untuk menghadapi ibunya yang diktator, yaitu neneknya yang selalu membela Saras. Tapi apakah dua orang dapat melawan serombongan pasukan perang terlatih? Nenek Saras memang berotak cemerlang, tapi ia sudah tua dan sakit-sakitan…

Walaupun dalam novel ini yang menjadi korban perasaan ialah Saras dan Jonas. Tapi sebenarnya yang patut dikasihani ialah Ibu Saras. Ia tipe perempuan manja, egois, dan diktator yang tidak mengerti bagaimana membahagiakan keluarganya. Walaupun sebenarnya tujuannya baik, untuk membuat nyaman hidup anak-anaknya, tapi kebahagiaan memang sulit diukur hanya dari finansial. Dan masih tanda tanya, apakah Ibu Saras benar-benar berbahagia dengan pernikahannya? Ataukah pernikahannya terlampau dingin hingga ia mengalihkan kebahagiaannya dengan menjadi seorang diktator? Jika ia bahagia dengan pria pilihannya sendiri, maka ia akan membiarkan anak-anaknya memiliki kebebasan untuk memilih pasangan hidupnya. Ayah Saras berprofesi sebagai seorang pengusaha dan berkarakter dingin.  Biasanya kekasih sejati seorang pengusaha ialah uang …Ibu Saras yang memiliki karakter dominan juga tidak bisa mengatur ayah Saras yang sibuk sepanjang tahun. Hal yang paling menyakitkan dalam cinta sebenarnya bukanlah pengkhianatan, tapi pengabaian. Jadi, Ibu Saras berpendapat cinta tidaklah menjadi penting lagi dalam suatu hubungan, tapi kenyamanan hidup secara status dan materiil.

Tema yang diangkat dalam novel ini sangat menarik. Kisah cinta antara dua hati dari dua dunia yang berbeda, yaitu Barat dan Timur. Kisah cinta keluarga yang mengharu-biru (aku jadi baper…padahal aku tidak gampang sedih T.T). Bahkan konflik keluarga khas Timur (khususnya Jawa yang mendukung perjodohan).  

Novel ini mengajak pembacanya untuk mengelilingi Linz, Austria. 

Dari Lentos, Art Museum.

Hohenrausch.

Bahkan Bukit Postlingberg.

Salah satu keunggulan K. Fischer dalam novelnya ialah setting latar yang hidup. Among the Pink Poppies menggabungkan dua hal yang seringkali bertentangan, yaitu teknologi dan alam. Ars Electronica ialah tempat kerja Saras yang bernuansa teknologi. 


Ars Electronica merupakan rumah bagi Paro (si robot anjing laut), Hugvie, Telenoid, dan masih banyak lagi. Paro imut banget. ^.^ 

Hugvie, robot bahaya bagi para jomblo …bisa kecanduan meluknya soalnya Hugvie selalu balas memeluk ^.^.

Kalau Telenoid agak mirip tuyul.Telenoid dibuat oleh ilmuwan Jepang untuk orang-orang yang kesepian. Jadi, jika kita mengajak bicara Telenoid, ia akan menjawab dengan lancar. Kok bisa? Ya bisa dong. Kan ada kabin rahasia di sebelah bilik Telenoid, yang berisi orang yang menjawab pertanyaan tersebut melalui microphone yang dihubungkan dengan speaker pada Telenoid. ^.^ Bisa latihan pedekate ke gebetan melalui Telenoid. :P

Dari tempat mereka berdiri sampai di kaki langit. Sejauh-jauh mata memandang, bumi seperti ditumpahi Stabilo pink. Menyala, merona, mekar berkibar menantang matahari. Pink, pink, pink di mana-mana. (hal 104-105)
Penggambaran setting ladang pink poppies bikin jatuh cinta…

Dengan membaca novel ini, kita dapat memahami perbedaan karakter Barat dan Timur dalam menghadapi cinta. Karakter pria Barat yang mudah mundur dan sensitif terungkapkan dengan sangat baik dalam novel ini.  Beda banget dengan pria Indonesia yang maju terus walaupun tidak disetujui keluarga, “Ya sudah, siapa takut? Tinggal kawin lari… entah lari estafet, entah lari marathon.” :P (kawin lari jangan dijadikan inspirasi ya…nanti aku dikeplak sama orangtua kalian lho gara-gara baca review ini :P alternatifnya kawin lari di tempat saja.)

Jonas juga menggambarkan karakter pria Austria yang tenang dan tidak gombal. Padahal dia turunan Hungaria yang perayu ulung lho. 

Jonas sangat menarik. Saat ia pertama mengenal cinta, karakternya halus dan lembut. Romantis dan penuh rayuan ala Hungaria. Tapi ketika ia kecewa...karakternya berubah dingin ala penguin mungkin karena ia memiliki darah Austria yang bekas jajahan Jerman. Penjajahan tersebut menyebabkan Austria agak berkarakteristik Jerman yang super cool. Jurus rahasia Jonas memang bukan dengan kata-kata, tapi dari perhatian…(terutama pada cacing-cacing di perut  Saras...dari perut naik ke hati :O). Karakter Austria yang penuh kekeluargaan tergambarkan dengan baik. Daerah bersalju membuat para penghuninya cenderung hidup rukun dan hangat satu sama lain. Eropa cenderung jauh lebih tradisional dibandingkan Amerika Serikat sehingga penduduk Eropa masih bersifat kekeluargaan.

Sedangkan Roi, pria Indonesia yang dijodohkan dengan Saras merupakan produk keluarga dominan, tapi kaya raya. Ia begitu pasrah dan penurut. Tipe anak mami padahal ia kekar. O.o. Mungkin kalau ia sedikit bad boy, cewek bakal lebih klepek-klepek kayak ikan mas koki kehabisan oksigen. :p

Dengan membaca novel ini, kita dapat mengetahui karakteristik seorang insinyur seperti Saras. Sediam-diamnya seorang insinyur, sepenurutnya seorang insinyur, tetap ia akan memiliki jiwa yang bebas. Lepas. :P 

Novel ini sukses banget bikin aku lapar. >.<  Untung novelnya enggak sampai dimakan. :P


Walaupun hanya fast food seperti hamburger dan potato salad aka puree kentang, deskripsi makanannya bikin cacing-cacing di perut langsung bernyanyi Metallica!
Puncaknya lapar saat STREET FOOD FESTIVAL di Linz. o.o




Romance ini dapat dibaca oleh remaja maupun dewasa. Adegannya romantis banget…bayangkan saja settingnya ala film Bollywood…ladang pink poppies. :P Apalagi cubit-cubitan manjanya bukan di lengan, tapi di … (xoxoxo).

Konflik dalam novel ini beragam. Dari konflik diri Saras yang ingin hidup bebas dari kekangan keluarga. Konflik cinta segitiga. Belum lagi konflik keluarga.

“Jika semua itu tidak cukup, untuk kamu jujur padaku, sampai kapan pun, aku tidak akan pernah pantas bagimu.” (Jonas, hal 473)
Saras yang gegabah, melakukan white lies baik pada Amelia maupun Jonas. Hal tersebut menimbulkan konflik serius pada hubungan cinta mereka…

Pada penasaran kan dengan akhir kisah cinta Saras? Siapa sih yang dipilih Saras? Jonas yang penuh kerikil atau Roi yang mulus kayak jalan tol? Makanya buruan beli dan baca novelnya ya.=)


Hanya satu hal yang disayangkan dalam novel ini :
“Mbak Uthi, kok Jonas-nya brekis aka brewok sih? Jadi merinding semua bulu kakiku sampai keriting saat membayangkan adegan kissingnya :P Hehehe.”
(Untungnya di bab akhir, Jonas cukuran…langsung deh turun badai cinta.)

Quotes :































Komentar

Popular Posting