Current Giveaway 5-12 May 2017

Review The School for Good and Evil by Soman Chainani

My rating : 4 bintang (skala 5)



Judul : The School for Good and Evil
Penulis : Soman Chainani
Penerjemah : Kartika Sofyan
Penerbit : Bhuana Sastra (PT BIP)
Terbitan : Desember 2014
Jumlah halaman : 580 halaman
ISBN 10 : 602-249-756-6 / ISBN 13 : 978-602-249-756-1

Sinopsis :
Sophie bosan akan kehidupannya yang hambar di Desa Gavaldon. Ia ingin diculik Sekolah Kebaikan sehingga ia dapat menjadi tokoh dongeng putri cantik yang menikah dengan pangeran tampan. Sebaliknya, Agatha, sahabat Sophie menentang impian Sophie dan bersikeras menyelamatkan Sophie sehingga akhirnya mereka berdua diculik! Tapi, bagaimana jadinya jika Sophie yang cantik dan feminin malah diterima di Sekolah Kejahatan, sedangkan Agatha yang buruk rupa, seram, suram, benci orang, dan liar malah diterima di Sekolah Kebaikan?


Review :

The School for Good and Evil merupakan kisah fantasi bertema kebaikan melawan kejahatan dengan latar belakang sekolah dongeng. Persahabatan. Cinta. Benci. Dendam. Permusuhan. Impian digambarkan dengan baik sekali dalam kisah ini. Cinta segitiga antara Sophie, Agatha, dan sang Prince Charming Tedros berakhir dengan tak terduga =)


Penokohan :

Sophie berkarakter kuat, penuh percaya diri, feminin, sopan, cerdas, tapi manipulatif, picik, pendendam, dan egois.

Agatha berkarakter pemuram, penyendiri, pesimis, tapi tenang, cerdas, setia kawan, dan bijak.

Sophie dan Agatha bersekolah di tempat yang mereka tidak kehendaki. Sophie yang cantik dan cemerlang di Sekolah Kejahatan. Sedangkan Agatha yang seram bersekolah di Sekolah Kebaikan. Hal ini seperti kisah dongeng Pangeran dan Pengemis yang bertukar tempat. Walaupun dalam novel ini, Sophie dan Agatha terpaksa menuruti pilihan Sang Guru yang misterius.



Sekolah Kebaikan dan Kejahatan mengingatkan akan Sekolah Sihir Hogwarts, terutama pertentangan kebaikan dan kejahatan antara Asrama Gryffindor dan Slytherin. Tapi, perbedaannya, Sekolah Kebaikan dan Kejahatan dalam novel ini merupakan sekolah yang mendidik siswa-siswanya untuk menjadi tokoh dongeng populer (putri, pangeran, monster, penyihir, hewan transformasi, dayang, dll), baik jahat maupun baik.


Kisah ini juga mengemukakan tentang Nemesis, malaikat kematian. Yang satu akan bertambah kuat ketika orang yang menjadi Nemesisnya melemah, dan sebaliknya. Mungkin akan tambah menarik, jika di akhir kisah diungkapkan bahwa Nemesis sejati sebenarnya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.  Hati kita hitam dan putih. Baik dan jahat. Seperti prinsip Yin Yang. Keselarasan terjadi ketika bagian hati yang putih menang dalam perang saudara melawan yang hitam =)


Lambang angsa di seragam Sophie dan Agatha seperti angsa hitam dan angsa putih dalam pertunjukan balet White Swan ^.^


Sophie benar-benar melambangkan Odil, si penyihir hati yang cantik, penuh passion, dan percaya diri.


Agatha berkesan Odil yang tenang dan penuh pengertian.



Bahkan Tedros benar-benar seperti Pangeran dalam kisah Swan Lake, yang labil dan bingung akan pilihan hatinya! Tapi, tak seperti ciuman sang Pangeran yang mematahkan kutukan Sang Penyihir, ada twist tak terduga tentang ciuman dalam novel ini ...



Kuota kalimat yang menarik :

Kalian baru akan bisa merengkuh diri kalian yang sejati, setelah kalian menghancurkan jati diri yang kalian kenal selama ini. (Manley, hal 137)

Kejelekan berarti kau berserah diri pada kecerdasan. (Manley, hal 137)

Penjahat terbaik membuatmu ragu. (Raja Arthur, hal 157)

Seorang penyihir tidak pernah memiliki dongengnya sendiri. (hal 431)

Makna kisah ini :
-Hidup itu pilihan. Walaupun lingkungan merupakan salah satu faktor penyebab kita menjadi jahat ataupun baik, tapi pada akhirnya pilihan tersebut tergantung diri kita sendiri.
-Hidup ditentukan oleh diri sendiri. Kita yang menuliskan diary hidup kita, bukan orang lain.
-Jahat ataupun baik tidak tergantung dari penampilan, tapi dari hati.
-Kecantikan akan memancar ketika merasa bahagia dan percaya diri.
-Sahabat sejati ialah orang yang selalu ada dalam suka dan duka.

Novelnya cukup menarik dengan banyak sisi psikologis yang bagus untuk direnungkan. Sayang sekali, aku kurang menikmati latar cerita. Deskripsi tempat kurang rinci dan imajinatif. Padahal ini kisah dongeng yang penuh keajaiban. Novel ini lebih menekankan penokohan. Kisahnya juga akan lebih menarik jika alur cerita berlangsung lebih cepat dan lebih banyak hal-hal ajaib yang terjadi dengan tidak terduga =)

PS : Terimakasih banyak Toko Buku Kupu-kupu dan Penerbit BIP yang memberikan giveaway novel ini ^.^

Komentar

  1. Balasan
    1. sudah terbit novel kedua lho di Gramedia ^^ Aku juga belum beli. =) trims ya udah berkunjung ke blog ini ^^

      Hapus

Posting Komentar

Popular Posting